Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kuliah

Catatan Akhir Semester 6

Gambar
It’s been a tough semester, indeed. Setelah bergelut begitu lama dengan perkuliahan yang membuatku tidak sengaja menelantarkan blog ini selama lima bulan, aku sendiri pun bahkan tidak percaya akan kembali muncul disini. Ya, sekarang sudah liburan semester. Otakku mulai mencekokiku dengan kalimat-kalimat tidak wajar seperti, “Kamu lelah. Tenaga dan pikiranmu sudah terkuras sepanjang semester. Semester depan pun akan jauh lebih berat. Sudahlah, liburan ini tenangkan pikiran. Tidurlah saja.” Tentu saja, pikiran semacam itu membuat hati bimbang, resah gelisah, gundah gulana. Pasalnya, liburan semester genap kali ini bukan lagi 3 bulan, melainkan hanya sekitar 7 mingguan – tidak genap 2 bulan. Mengapa? Tentu saja karena aku harus melaksanakan KPL (Kajian dan Praktek Lapangan) di sekolah. I mean, yes, teaching in a real school for two months . Liburan – maksud hati ingin tidur, rileks maksimal, tapi bagian lain dari otakku memergoki keinginan itu, mencercaku, dan menghujanik

Berpikir Kritis, Sepenting Apa?

Gambar
Dulu, saya pernah sekali melakukannya tanpa pikir panjang. Sekali ditegur, malu seumur hidup. Dan lagi-lagi saya membuktikan kebenaran “Malu itu sebagian dari iman.” Hahaha.. Baca! XD __________ Hari ini, hari kedua kuliah di semester 4. Mata kuliah pertama ada Advanced Reading , bersama Pak dosen yang menurut saya, orangnya cerdas, teliti, dan menyenangkan. :D Sebelum memulai pelajaran baru, beliau bercerita tentang sesuatu yang menarik. Cerita itu tentang suatu negeri yang (sebenarnya) potensial dan mengagumkan. Sayangnya, minat baca penduduk negeri itu sangat rendah. Menurut riset bertajuk “Most Literred Nation in the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu, peringkat minat baca penduduk negeri itu berada di urutan ke-60 dari 61 negara. Ranking 2 dari bawah! Mengagumkan, bukan? Ya. Menurut beliau, bahkan dosen-dosen dan pelajar di negeri itu pun kalah kalau dibanding kaum terpelajar di luar sana, kaitannya dengan

Perkenalanku dengan Jurusan Sastra Inggris

Gambar
Dulu, waktu masih duduk di bangku SD, aku suka sekali Bahasa Inggris. Itu pelajaran favoritku. Waktu SMP dan SMA juga tetap suka Bahasa Inggris, tapi karena lingkungan tidak mendukung, jadinya kemampuanku diam di tempat, tidak menguat, tidak pula meningkat secara signifikan. Paling-paling cuma belajar sebagian kecil Tenses, expression, macam-macam teks, dan sebagainya. Selama belajar 12 tahun itu pun, aku tidak tahu bagaimana rasanya masuk laboratorium bahasa, karena di sekolahku memang tidak pernah ada. Selain itu, - bukan maksud meremehkan -, tapi standar perekrutan guru di sekolahku memang berbeda dengan sekolah-sekolah negeri. Karena saat SMP aku dipondokkan, guru-guru yang masuk pun difilter dengan kriteria-kriteria tertentu yang lebih berdasar kepada ajaran Islam yang dianut pondok (seperti cara berpakaian, berdandan, dan sebagainya). Saat SMA, ah, sebenarnya aku masih menghabiskan 1 semester di pondok, lalu semester berikutnya pindah ke sebuah Madrasah Aliyah swasta.